Cara Mengajari Batita Meminta Maaf

Berikut 4 langkah sederhana cara membiasakan batita minta maaf:

1. Contoh langsung
Contohkan bagaimana sebaiknya kata maaf diucapkan. Misal, orangtua tak sengaja menumpahkan susu anak, katakan, "Maaf ya, Sayang, Mama tidak sengaja menumpahkan susumu." Begitu juga dengan kesalahan lain yang dilakukan. Dengan demikian diperlukan anak sudah biasa menyaksikan orang-orang terdekatnya mengucapkan maaf manakala melakukan kesalahan.

2. Tunjukkan penyesalan dengan bahasa tubuh
Lakukan kontak mata di saat mengucapkan kata maaf, sehingga anak dapat mencicipi penyesalan yang mengiringi usul maaf itu. Menggenggam tangan, memeluk erat, atau mencium juga akan dicontoh anak di saat orangtua minta maaf dengan bahasa badan menyerupai itu. Namun selaku catatan, tegaskan padanya bahwa pelukan dan ciuman penyesalan cuma boleh diberikan pada papa/mama/kakak/adik, sedangkan untuk teman/saudara/orang lain cukup dengan bersalaman. Bahasa badan juga efektif untuk batita yang komunikasi verbalnya belum tanpa hambatan sehingga belum dapat mengucapkan kata maaf.

3. Dorong mudah-mudahan bertanggung jawab
Selain mengucapkan maaf, minta anak untuk "bertanggung jawab" atas kesalahan yang dilakukannya. Umpama, dia menyenggol temannya hingga jatuh. Nah setelah minta maaf, kalau temannya terluka, minta si kecil memberikan tisu/plester. Ini selaku bab dari pembelajaran tentang tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.

4. Berikan apresiasi
Setelah anak mengucapkan kata maaf, berikan apresiasi dalam bentuk pujian, seperti, "Wah, pintar, kau sudah dapat minta maaf." Hal tersebut sekaligus selaku penguatan bahwa yang dilakukannya sudah benar dan perlu diulanginya lagi di lain kesempatan.

PESAN PENTING
Selain cara, orangtua juga mesti mengajarkan kapan kata maaf itu diucapkan, yakni di saat menyulitkan orang lain, mencelakai orang lain, melanggar janji, melakukan hal-hal yang sudah dilarang, melakukan hal-hal yang tidak digemari orang lain, dan sebagainya. Dengan begitu, yang ditekankan yakni pesan untuk tidak mengulangi kesalahan, bukan semata-mata minta maaf tanpa memahami alasannya.

Apa hasilnya kalau anak yang bersalah tidak dibiasakan meminta maaf?

* Anak tidak digemari dalam pergaulannya alasannya yakni tidak biasa minta maaf setelah melakukan kesalahan. Ini akan berakibat pada pertumbuhan sosialnya. Apalagi kalau perilaku masa kolot ini terbawa hingga usia dewasa.
* Perkembangan emosinya tidak maksimal alasannya yakni dengan tidak mengakui kesalahan, dia tidak bisa menganggap dirinya secara pas.

Post a Comment

0 Comments