Stimulasi Merangsang Kecerdasan Anak

Untuk merangsang kecerdasan anak sejak dini, dikehendaki stimulasi bermain sejak dini. Apakah stimulasi bermain sejak dini itu? Menurut Dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dokter seorang andal anak konsultan berkembang kembang, stimulasi dini yakni rangsangan bermain yang dijalankan sejak bayi gres lahir. Rangsangan atau stimulasi ini seharusnya dijalankan sejak janin masih berusia 6 bulan di dalam kandungan. Mengapa?

Stimulasi diandalkan sanggup memengaruhi pertumbuhan sinaps (proses sinaptogenesis), yang memerlukan banyak sialic acid untuk membentuk gangliosida, yang penting untuk kecepatan proses pembelajaran dan memori.

Rangsangan yang mesti dijalankan dengan sarat kegembiraan, kasih sayang, dan setiap hari untuk merangsang semua tata cara indera. Selain itu, mesti juga merangsang gerak agresif dan halus kaki, tangan, dan jari-jari, mengajak komunikasi, serta merangsang perasaan yang mengasyikkan dari asumsi bayi dan balita.

Rangsangan yang dijalankan dengan situasi bermain dan kasih sayang, sejak lahir, terus-menerus, dan bervariasi, akan merangsang pembentukan cabang-cabang sel-sel otak, melipat gandakan jumlah hubungan antar sel otak sehingga membentuk sirkuit otak yang lebih kompleks, canggih, dan kuat. Dengan demikian, kecerdasan anak makin tinggi dan bervariasi (multiple intelligence).

Lalu, bagaimana menstimulasi janin yang masih dalam kandungan? Si ibu atau ayahnya bisa melakukannya dengan mengatakan bersahabat perut si ibu, menyanyikan lagu, membaca doa, lagu-lagu keagamaan, sambil mengelus perut si ibu. Dapat pula memperdengarkan lagu dengan menempelkan earphone di perut ibu atau si ibu juga menyimak lagunya. Ada sebagian literatur yang menyampaikan bahwa menyimak lagu klasik baik untuk kemajuan otak anak. Jika memang ingin memperdengarkan lagu klasik pada anak, penting juga untuk si ibu menggemari lagu-lagu tersebut. Sebab, situasi hati si ibu juga bisa memengaruhi si bayi. Stimulasi seharusnya dijalankan setiap hari, setiap di saat ibu bisa berinteraksi dengan janinnya, misal, di saat mandi, masak, basuh pakaian, berkebun, dan sebagainya.

Sementara untuk bayi atau balita, stimulasi bisa dijalankan dengan beraneka ragam cara sesuai kemajuan usianya, contoh:

Usia 0–3 bulan, berikan rasa nyaman, aman, dan menyenangkan, memeluk, menggendong, memandang mata bayi, mengajak tersenyum, membunyikan bunyi atau musik, menggerakkan benda berwarna mencolok, benda berbunyi, menggulingkan bayi ke kanan/kiri, tengkurap-telentang, dan dirangsang untuk menjangkau dan memegang mainan.

Usia 3–6 bulan, bisa dengan bermain “cilukba”, menyaksikan tampang bayi di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.

Usia 6–9 bulan, panggil namanya, salaman, tepuk tangan, bacakan dongeng, rangsang duduk, latih bangun berpegangan.

Usia 9–12 bulan, mengulang menyebut mama-papa, kakak, masukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, gelindingkan bola, latih berdiri, jalan berpegangan.

Usia 12–18 bulan, latihan dengan corat-coret pensil warna, susun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle), masukkan dan keluarkan benda kecil dari wadah, main dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap, dan lainnya. Latihlah untuk berlangsung tanpa pegangan, jalan mundur, panjat tangga, tendang bola, lepas celana, mengetahui dan melaksanakan perintah-perintah sederhana (mana bola, pegang ini, masukkan ini, ambil itu), sebutkan nama atau menyampaikan benda-benda.

Umur 18–24 bulan, tanyakan, sebutkan, tunjuk bagian-bagian badan (mata, hidung, telinga, mulut, dan lainnya), tanyakan gambar atau sebutkan nama hewan dan benda-benda di sekeliling rumah, ajak bicara mengenai acara sehari-hari (makan, minum, mandi), latihan gambar garis, basuh tangan, pakai baju-celana, main lempar bola, melompat, dan lainnya.

Umur 2–3 tahun, ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit, dan lainnya), sebutkan nama teman, hitung benda, pakai baju, sikat gigi, main kartu, boneka, masak-masakan, gambar garis, lingkaran, manusia, latihan bangun di satu kaki, buang air kecil/besar di toilet.

Setelah 3 tahun, selain memajukan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi ini juga diarahkan untuk kesiapan bersekolah, antara lain; memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal abjad dan angka, berhitung sederhana, mengetahui perintah sederhana (buang air kecil/besar di toilet), dan kemandirian (ditinggal di sekolah), menyebarkan dengan teman, dan lain sebagainya. Perangsangan sanggup dijalankan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga), tapi sanggup pula di golongan bermain, taman kanak-kanak, atau sejenisnya.

Post a Comment

0 Comments